
Ukuran: 14 x 20 cm
Jumlah hlm: viii + 154
Penulis : Endang P. Uban, Febriyanti DS, Geni Kurniati, Heti Palestina Yunani, Ihdina Sabili, Jiphie Gilia Indriyani, RWilis, Shenawangtri, Sylvia Tanumihardja, Titie Surya, Triyana Damayanti, Wina Bojonegoro, Windy Effendy, WS Arianti, Yoni Astuti, Yulfarida Arini
Editor : Indria Pramuhapsari
Layout : Alek Subairi
Sampul : Yoes Wibowo
ISBN:
Cetakan pertama, Juni 2026
Bunga Kacapiring mengantarkan perjalanan Kung Rustam menuju keabadian. Bunga kesayangan mendiang istrinya itu menjembatani kerinduannya pada kasih dan kelembutan perempuan yang selalu setia mendampinginya berjuang melawan stroke tersebut.
Di luar dugaan, Bunga Kacapiring yang menyembul dari rumpunnya di dekat kolam ikan itu juga menjadi gerbang bagi Yana yang bercita-cita melanjutkan karier ke Qatar. Perawat yang menggantikan tugas mendiang istri Kung Rustam itu rupanya telah memupuk asa sekian lama.
Sembilan Langkah Menuju Kacapiring hanyalah satu keping dari 16 petualangan para penulis dalam buku kumpulan cerpen ini. Semuanya adalah tentang perjalanan yang jauh. Ketika di Malta, Laut Hitam, Menulis Mimpi menggambarkan tempat yang jauh yang menyadarkan para penulis bahwa sering kali perjalanan adalah dorongan dari intuisi dan nyali.
Cinta dan keluarga mewarnai kisah-kisah dalam Pulang ke Rahim Ibu, Menggapai Puncak Pawitra, Ribuan Kilometer Sepi, Rumah dan Stasiun, Terlambat ke Madrasah, Titik Terang, serta Pulanglah, Pulang. Ada jiwa yang ikut bertualang dan kenangan-kenangan yang mengiringi perjalanan.
Konflik dengan diri sendiri selalu menjadi pemicu perubahan. Dan, pada akhirnya, cinta selalu menemukan support system terbaiknya dalam diri keluarga, pasangan, sahabat, dan teman dekat.
Genggaman Kecil di Jalan yang Panjang mengisahkan pahitnya petualangan hidup dalam realita sosial dan budaya yang harus ditelan. Penulis menyingkapkan kerentanan seorang single mother korban KDRT yang harus bekerja di perantauan, demi masa depan yang lebih baik, dalam sosok Gea.
Membagi waktu antara bekerja dan merawat bocah usia balita tidaklah mudah bagi Gea. Apalagi, masa lalu dalam wujud mantan suami rupanya masih enggan berpisah. Padahal, Gea dan putranya Gong juga ada dalam radar sindikat jahat yang menarget kalangan rentan demi pendapatan instan.
Kritik sosial dalam sudut pandang perempuan yang tak punya kuasa atas kehidupannya sendiri disuguhkan dalam Tak Ada Surga di Kota-Kota Dunia. Jiwa yang nelangsa karena asmara dan perbedaan keyakinan mewarnai Sore di Masjid Nabawi. Semuanya tentang hari-hari sepi dalam perjalanan menuju perubahan dan perjalanan yang lebih jauh lagi menuju penerimaan diri.
Wuwung dan Kuda Lumping menghadirkan kejutan dalam rangkaian kisah-kisah perjalanan yang menembus ruang-ruang dimensi. Nuansa budaya dan tradisi yang erat, berbenturan dengan nalar dan modernitas yang seakan kian berjarak dengan nilai-nilai warisan leluhur.
Ada logika yang terus meronta dalam perjalanan-perjalanan batin dan penjelajahan moral serta nilai luhur. Ada lelah yang menerjang tiap kali waktu dan jarak semakin panjang dan intens.
Di atas semuanya itu, Ribuan Langkah Menuju Pulang adalah teman seperjalanan. Sebab, kita semua tahu, tidak ada perjalanan yang mudah. Terutama, perjalanan pulang menuju diri sendiri. Percayalah, semua luka dan lara itu bermakna. (*)