Wina Bojonegoro

Meski banyak orang mengatakan, hujan akhir-akhir ini rekayasa musim, tetapi siapa menyangkal kedatangannya di bulan Februari?
Kali ini hujan turun dengan amuk yang tak kenal ampun, seolah-olah langit sedang murka dan menumpahkan seluruh duka yang disimpannya. Di balik jendela kaca yang berembun, perempuan itu berdiri mematung. Matanya menatap kosong pada ribuan jarum air yang menghujam bumi. Ada rasa linglung yang merayap di dadanya, sebuah perasaan aneh yang membuatnya merasa terasing di rumahnya sendiri. Seharusnya, di tengah simfoni air ini, ada suara lain yang menemani: sebuah nyanyian riang, atau sekadar gumam tanpa syair yang biasa mereka lantunkan bersama.
Namun sore itu, irama hujan terasa seperti sebuah ejekan. Suara gemuruhnya menyindir kesenyapan yang telah berkerak di setiap sudut ruangan sejak laki-laki itu pergi.
Aini teringat pada musim hujan yang lalu, saat lelaki itu dengan jemari yang liat menanam setangkai bunga sepatu merah di halaman. Ia ingat betapa cekatannya tangan itu mengolah tanah, hingga tak butuh waktu lama bagi sang bunga untuk tumbuh, bercabang, dan akhirnya mekar dengan warna merah yang menantang maut. Namun, dengan cara yang sama tiba-tibanya, lelaki itu merenggutnya hingga ke akar. Aini merasa, saat bunga itu dicabut, ada segumpal daging di dalam dadanya yang ikut terangkat. Lelaki itu tidak sekadar menanam bunga di halaman; ia menanamnya tepat di ulu hati Aini. Kini, yang tersisa di sana hanyalah sebuah rongga hampa. Sepi yang menyerupai kematian.
Langkah kaki Aini kemudian menyeretnya menuju beranda, tempat favorit lelaki itu untuk mengintip cahaya bulan.
“Lihat, bulan itu amat kesepian,” suara lelaki itu terngiang kembali di telinganya.
Kala itu, Aini hanya mengangguk bodoh, meski batinnya berteriak bahwa bulan tidak pernah benar-benar sendiri. Di atas sana, jutaan bintang setia menemani dalam pola-pola yang abadi. Bintang-bintang itu selalu kembali pada posisi yang sama, esok, dan esoknya lagi. Mereka memiliki kesetiaan yang mutlak pada semesta. Namun, Aini menatap nanar ke arah halaman yang basah dan bertanya dalam hati: Di manakah kesetiaan lelaki itu?Rinai hujan menari dengan genit di atas mozaik halaman, membasahi kenangan tentang keinginan sederhana sang kekasih: sepasang kacamata. Lelaki itu ingin memandangi wajah Aini dengan lebih saksama—ingin menghitung tahi lalat di pipinya dan menelusuri setiap pori-pori kulitnya dengan lensa yang jernih. Namun, kemiskinan saat itu adalah dinding yang tebal.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Aini telah melakukan ritual pengorbanan kecil setiap harinya. Ia menyisihkan sisa uang belanja, mengurangi porsi makannya sendiri, dan sering berpura-pura tidak lapar saat makan malam demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Kini, di dalam lemari pakaian yang mulai apek, tersimpan sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado berwarna merah jambu. Sebuah kacamata baru, siap dihadiahkan pada tanggal 14 Februari, tepat di hari ulang tahun lelaki itu.
Namun, 14 Februari telah tiba, dan rumah itu tetaplah sebuah makam bagi suara-suara. Keheningan itu sempat terusik kemarin, saat Soe, adik laki-laki Aini, datang dengan mata sembab. Soe memohon bantuan biaya untuk anaknya yang terkapar karena demam berdarah. Aini hanya bisa memandang adiknya dengan kepedihan yang luar biasa. Uang simpanannya telah berubah wujud menjadi kacamata, dan ia tidak memiliki apa pun lagi untuk diberikan. Saat Soe pergi dengan bahu yang luruh di atas sepedanya, Aini merasa hatinya remuk. Cinta memang membutuhkan pengorbanan, namun tak jarang ia juga memaksa seseorang untuk memilih antara dua luka.
Aini kembali ke dalam kamar, meletakkan kado merah jambu itu ke tempat asalnya. Ia masih memupuk sebuah harapan yang barangkali dianggap gila oleh orang lain: bahwa lelaki itu akan pulang, memakai kacamata itu, dan menatapnya dengan binar mata yang baru.Untuk mengusir sunyi, Aini duduk di depan mesin ketik tua miliknya. Suara cetak-cetok yang dihasilkan mesin purba itu menjadi satu-satunya kawan bicaranya. Sambil mengetik kata demi kata yang tak menentu, ia memutar ulang film masa lalu di kepalanya.
Ia teringat keberatan ibunya dulu.
“Dia laki-laki terlalu sederhana. Tak punya apa-apa,” kata sang ibu dengan nada tinggi.
Namun Aini, dengan ketenangan seorang penjelajah yang yakin akan tujuannya, menjawab, “Segala hal datang dari tiada, lalu menjadi ada, dan kembali menjadi tiada. Begitulah siklus kehidupan, Bu.”
Bahkan pertunangan mereka pun berlangsung tanpa cincin. Sebagai gantinya, lelaki itu memberinya sebuah lingerie tanpa merk berwarna merah bata. Aini mengenakannya dengan kebanggaan yang meluap setiap malam, merasa lebih cantik daripada ratu manapun, karena ia mengenakannya dengan segenap rasa cinta yang ia miliki.
Telepon berdering. Itu Kay, sahabatnya yang selalu membawa aroma dunia luar yang serba praktis dan modern.
“Kau tidak mengundangku ke pesta ulang tahunnya?” tanya Kay.
“Kami tidak mengadakan pesta,” jawab Aini datar, lalu memutus percakapan.
Kegelapan mulai turun menyelimuti rumah itu. Aini menyalakan sebatang lilin, membiarkan cahayanya yang temaram menari-nari di dinding. Ia teringat lirik lagu tentang kematian yang tak mampu mengakhiri cinta. Ia mencoba memercayai hal itu, sebagaimana ia percaya bahwa lelaki itu pasti sedang berdiri di suatu tempat, di dalam gelap, sedang memandangnya.
Waktu terus bergulir hingga 14 Februari perlahan-lahan mulai menjadi masa lalu. Aini mulai belajar berdamai dengan udara lembap dan langit yang muram. Suara mesin ketiknya masih menemani, hingga sebuah bunyi lain memecah konsentrasinya.
Tok! Tok! Tok!
Suara itu nyata. Bukan imajinasi, bukan pula ketukan butiran hujan. Aini melangkah menuju pintu dengan jantung yang berdegup kencang. Ketika pintu kayu itu terbuka, seorang pria berdiri di sana. Mengenakan jaket baseball abu-abu dan topi hitam yang menutupi wajahnya hingga ke batas mata.
Pria itu mendongak, menyunggingkan senyum yang selama ini hanya hadir dalam mimpi-mimpi Aini.
“Boleh aku masuk?” tanyanya lirih.
“Kau selalu diterima…” jawab Aini, suaranya hampir hilang ditelan angin malam.
Di dalam rumah yang temaram oleh cahaya lilin, pria itu membuka jaketnya dan mengungkapkan alasan kepergiannya yang tiba-tiba. Ia bercerita tentang rasa rendah dirinya sebagai lelaki yang ditertawakan karena tunangan tanpa cincin. Ia pergi untuk membawa pulang harga diri yang ia rasa sempat hilang.
Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru. Di dalamnya, sepasang cincin emas putih berkilau, memantulkan cahaya lilin yang redup. Ia meraih jemari Aini, menyematkan cincin itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Aini terpaku. Lama tak berkata-kata. diusapnya cincin itu dengan senyum samar yang dicatat lekat-lekat oleh sang lelaki.
“Dia tak akan pernah melihat cincin ini,” Desah Aini dengan suara yang menyayat.
“Dia tak akan pernah tahu bahwa kau adalah lelaki yang menepati janji. Kita punya kacamata baru, kita punya cincin yang indah, tapi kita kehilangan saksi yang ingin kita yakinkan.”
Di bawah temaram lilin yang nyaris habis, mereka berpelukan erat. Di luar, hujan benar-benar reda, namun di dalam hati Aini, badai baru saja usai, meninggalkan puing-puing kebahagiaan yang terasa getir. Mereka memiliki satu sama lain sekarang, tapi mereka juga sadar bahwa beberapa luka, tak peduli seberapa mahal emas yang membalutnya, akan tetap menjadi parut yang abadi. (*)