
Ukuran: 14 x 20 cm
Jumlah hal: xxx + 160 hal
Penulis : Wina Bojonegoro
Penyunting : Teguh Afandi
Penyunting Bahasa Jawa: Bonari Nabonenar
Penyelaras bahasa : Indria Pramuhapsari
Desain Sampul : Yoes Wibowo
Penata Letak : Windy Effendy
Cetakan pertama, Agustus 2026
Bulan pernah menanyakan arah hubungannya dengan Sam. Ketika jawaban tak kunjung datang, dia move on dan kemudian menambatkan hatinya pada lelaki baru. “Suatu Senja di Jalan Tunjungan” merekam ketegaran Bulan yang pada akhirnya menyandera Sam dalam ruang kecewa.
Rinai yang pandai bermain peran karena desakan kebutuhan, tak pernah kalah dalam permainan yang dia ciptakan sebagai “Kupu-kupu Merah Marun”. Berbeda dengan Tik yang terperangkap resah dan cemas karena gagal menolong sahabatnya sejak masa sekolah, Sum. Dalam “Yang Datang di Ujung Malam” itu, Tik mewakili ketidakberdayaan perempuan.
Pergolakan batin perempuan sebagai individu berlanjut dengan kegundahannya sebagai bagian dari keluarga. “Urusan apa yang mampu menggagalkan anak berlebaran kepada ibunya?” Pertanyaan Rumini menggantung di awang-awang tanpa ada yang mau menjawabnya. Dalam “Janji”, Wina Bojonegoro menuangkan kerinduan seorang ibu kepada anak-anaknya dan Lebaran yang hangat.
Kegundahan perempuan dalam melengkapi perannya sebagai pilar keluarga membuat “Lima Jam Selepas Pukul Lima” dan “Hadiah dari Mate” serupa tamparan. Purwita yang tak bisa memilih antara ibu dan anaknya, serta Seruni yang terkecoh bantal bulu angsa mewakili fakta bahwa hidup terkadang hanya bisa dijalani, tanpa bisa dipilih.
Peran perempuan sebagai warga negara tak kalah rumitnya. “Negeri Angka” menjadi pembacaan relevan tentang kehidupan masyarakat akar rumput dengan para elite. Tokoh Aku dan Yon larut dalam pembahasan kritis tentang kondisi negara. Berbeda dengan Nona dalam “Nona dan Secangkir Kopi Rempah” yang memasrahkan dirinya sebagai alat rezim.
Selanjutnya, “Tak Ada Surga di Kota-Kota Dunia” hadir sebagai gong. Betapa tak ada kedamaian dalam hati Ningrum sejak sang suami masuk ring satu rezim. Wina menuliskannya dalam kalimat menairk, “Sejak itu hatinya diserang ulat bulu. Kemriyek.”
Malang, keikhlasan yang dijalani Ningrum sebagai istri dan ibu berbuah nelangsa karena Marimba, sang suami, kemudian diseret ke Gedung Merah Putih gara-gara tersandung Rp7 miliar.
Wina menangkap fenomena pahit-getir dan sukacita di sekelilingnya ke dalam sembilan cerita pendek yang semua tokoh utamanya perempuan. Pembaca diajak menyimak peran perempuan sebagai individu yang punya hasrat dan cita-cita; perempuan sebagai pilar keluarga yang harus selalu kuat dan siap sedia; serta perempuan sebagai warga negara yang sering kali harus patah hati pada pemerintah. Buckle up, Readers! (*)