TULAH ASMARA

Oleh: Kusuma Sundari

Dua puluh empat anak berwajah mongolid itu berkerumun di bawah rindang daun beringin tua. Mereka memutari satu peralatan batik ciprat, sebagai pembunuh waktu menunggu rapat di dalam balai desa selesai. Anak-anak itu siswa-siswi Sanggar Tunas Harapan yang usianya mulai tujuh hingga tiga puluhan tahun. Mereka berbaju lusuh, kebanyakan bertelanjang kaki, bermuka polos, dan ceria. Salah satu di antaranya, Gunawan yang wajah mongolidnya selalu terlihat tersenyum penuh hasrat pada Lasmini, sesama teman sanggar.

Para guru dan pembimbing menyadari itu.
“Pak Teguh, tolong nanti minta Gunawan yang mengerjakan pencipratan, ya,” bisik Bu Ratih, guru baru.
“Siap, Bu. Semoga rapatnya segera selesai.”
“Ya, Pak. Lasmini akan kami amankan di kantor guru,” lanjut Bu Ratih.
Pak Teguh menyadari bahwa dia harus membuat sibuk anak-anak istimewa itu.
“Huuuu Lasmini… Mini…,” Gunawan mencoba menggapai Lasmini yang menunduk dan ujung matanya melirik ke arah Gunawan. Ada tawa senang di mata dan bibirnya yang agak sumbing.
Gunawan terhuyung dan berlari timpang karena kaki kirinya lebih pendek dari yang kanan. Tangan kirinya juga lunglai dibandingkan dengan yang kanan. Akan tetapi, kendala fisik tak menghalanginya untuk mencoba terus merangsek ke arah Lasmini. Pada jarak sekian depa mendekati Lasmini, langkah Gunawan terhenti. Kedua tangan Pak Edy sigap menahan tubuh Gunawan, sementara Bu Diah menyeret Lasmini menjauh. Gunawan meronta dalam kuncian Pak Edi, guru yang memiliki postur kokoh.

“Uh… uh… uh…,” Gunawan melenguh berusaha memberontak dari telikung Pak Edi.
“Hehehe… Awan, Awan,” sambut Lasmini cadel sambil tertawa.
Sorot matanya menunjukkan hasrat yang sama pada Gunawan. Mereka sama-sama menyimpan pijar asmara. Bu Diah berusaha membawa Lasmini ke dalam kelas.Seketika anak-anak berteriak-teriak menyoraki. Para guru telah membuat aturan melarang keras para siswa berpacaran. Namun, larangan itu menjadi sia-sia. Birahi yang tumbuh subur dalam hormon tubuh di luar kendali mereka.

“Kalem Wan, fokus ke Pak Guru,” tangan kiri Pak Edi menelikung leher dari belakang dan tangan kanannya memutar kepala Gunawan ke arah Pak Teguh yang berdiri dua meter di samping kiri Gunawan.
“Ayo celup kuasnya dan cipratkan ke kain,” Pak Teguh menunjuk ke arah kain yang terbentang melalui gerakan kepalanya.
Kuas itu memang kemudian mencipratkan cat ke kain warna kunyit tetapi oleh Pak Teguh melalui tangan Gunawan yang ia cengkeram dan gerak-gerakkan. Agak sulit membuat Gunawan konsentrasi.
“Gun, lihat kainnya. Cipratannya biar merata,” Pak Teguh kembali mendesak Gunawan.
Mata Gunawan tetap nyalang mencari Lasmini selama ciprat-menciprat. Bayangan wajah, senyum, mata, dan tubuh Lasmini merasuki kepalanya, seolah tak ada hal lain mampu menyedot perhatiannya untuk dipikirkan barang semenit.

Anak-anak istimewa itu mulai terurus sejak Pak Rustam terpilih menjadi kepala desa empat tahun lalu. Usai pelantikan di pendopo kabupaten, ia bertamu ke rumah Bu Diah, lulusan SPG angkatan terakhir 1984 yang memilih menjadi ibu rumah tangga.
“Bu, mari kita urus para anak cacat di desa kita. Dirikanlah sekolah.”
“Di mana?”
“Pakailah balai desa, kan tidak setiap hari ada rapat.”
“Gratis ya, Pak? Gaji guru bagaimana?”
“Kita minta bantuan dinas sosial kabupaten dan donatur-donatur.”

Kebaikan hati Pak Kades Rustam tidak sepenuhnya disambut baik dalam rapat desa kala itu, termasuk oleh istrinya, tokoh kunci kemenangannya dalam pilkades. Sebagai ketua PKK, istrinya sadar program itu akan menyedot dana besar.
“Ini akan menjadi program sulit, Pak, membebani anggaran desa yang terbatas,” keluh Arini, istri Pak Rustam.
“Mereka harus diurus, seperti penduduk yang lain,” jawab Pak Kades kalem.
Dia menoleh ke sekretaris desa minta dukungan.

“Setuju, Pak, tetapi problemnya kan di gizi, kurang garam yodium. Jadi ini masalah kesehatan,” kata sekdes.

Sekejap dia menyadari, dia tidak sedang mendukung ide Pak Kades. Dia melihat Pak Kades kecewa.
“Ini soal kemanusiaan. Mereka cacat, bukan mau mereka. Mereka adalah korban, menanggung kesalahan leluhur mereka,” Pak Jogoboyo menimpali sambil menghela napas.
Semua terdiam sambil menganyam kembali cerita turun-temurun, kutukan siluman ular. Semua penduduk memahami cerita itu. Ular siluman saat bertapa berupa ular terbunuh oleh ulah beberapa penduduk desa. Penduduk meyakini bahwa nenek moyang mereka melakukan kesalahan, maka kutukan berupa anak-anak lahir cacat fisik dan mental dengan penampilan mongolid, menjadi sesuatu yang harus mereka terima.

Setelah rapat itu menyetujui rencana Pak Kades, Bu Diah kemudian mengajak Pak Edi, teman SPG-nya dari desa sebelah untuk mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tunas Harapan. Kecambah muda itulah kelak yang akan menjadi pendamping kelompok disabilitas mental Desa Banyurejo. Tiga puluh siswa pada mulanya, sekarang tinggal dua puluh empat, pernikahan sesama disabilitas tak terhindarkan.

Hari itu Mbah Danyang, laki-laki tua berjanggut, hadir sejak pagi. Dia berdiri di luar kerumunan di bawah rindang pohon beringin. Mbah Danyang berteman dengan anak-anak mongoloid itu. Mereka saling menyapa, bercakap, bahkan bersenda gurau. Sering bahkan Mbah Danyang turut bermain bersama mereka. Bu Diah dan guru-guru sering marah-marah, merasa terganggu melihat anak-anak bercakap dan tertawa sendirian. Ya, dunia mereka memang berbeda.

Matahari hampir sampai di puncak langit dan panasnya membakar ubun-ubun. Anak-anak yang sudah lebih tiga jam menunggu rapat berakhir, mulai kehilangan kesabaran. Suasana mulai ganjil dan tidak nyaman. Mereka mulai merasakan kehadiran makhluk lain di antara kerumunan.

Seekor ular besar bermahkota sudah berdiri di samping Mbah Danyang. Ular bergumam dalam desisnya. Mbah Danyang tersenyum sambil mengelus jenggotnya, tak berkata-kata.
“Saatnya tiba. Para pembunuhku harus melihat akibat perbuatannya padaku.”

Sementara itu, Gunawan semakin tegang. Panas siang itu sungguh membakar nafsunya. Hasratnya untuk merengkuh Lasmini tidak padam oleh kesibukan menciprat-ciprat cat. Sementara, komodo di dalam dirinya mulai mendesak keluar, ingin mencabik-cabik Pak Edi sebagai penghalang untuk mendekati Lasmini.
“Bawa Gunawan pulang saja, Pak Edi. Dia mau mengamuk kelihatannya,” seru Bu Diah cemas.
“Rapatnya kelamaan. Anak-anak bisa tantrum,” keluh Pak Edi putus asa.
Anak-anak yang lain pun gelisah menahan macan, kera, singa, buaya dalam diri masing-masing yang sama beringasnya. Para binatang itu menunggu satu pengait dilepaskan, agar bisa menunjukkan kebuasan diri dan menerkam apa saja di sekitarnya.

Tiba-tiba Gunawan menyadari bahwa Lasmini tidak ada di kerumunan. “Aaarrrgh…,” Gunawan meledak, komodonya memberontak, lepas kendali dan menjadi liar. Ia mendorong dan menendang kaleng-kaleng pewarna hingga tumpah, menodai tanah dengan warna-warna primer tak beraturan. Gunawan berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Pak Edi, berlari mencari Lasmini. Bagaikan banteng ketaton, Gunawan melesat dan menyibak kerumunan. Lasmini sudah keluar dari ruang guru dan menyambut Gunawan yang kemudian bergegas menyeretnya ke belakang balai desa.

Tendangan Gunawan membuat anak-anak berkanjar-kanjar, berteriak, meraung, mencakar, menendang, berlarian semburat ke segala arah. Suara gaduh itu hinggap di telinga kepala desa dan para peserta rapat segera membubarkan diri tanpa komando.

Dalam sekejap para guru dan orang-orang berhasil mengejar dan membawa kembali anak-anak yang berlarian. Namun, Gunawan dan Lasmini tidak ditemukan. Danyang tua yang waspada di bawah pohon beringin menunjukkan wajah muram. Ular besar bermahkota tersenyum menang kemudian menghilang.

Beberapa saat waktu seperti membeku. Semua orang terhipnotis oleh kejadian sesaat yang terjadi di luar kendali mereka. Terlebih lagi, mereka saling bertanya pada rekan sebelahnya, ke mana gerangan Gunawan dan Lasmini pergi? Begitu cepat ia menghilang. Hingga beberapa saat kemudian keheningan itu pecah oleh teriakan Bu Diah.

“Itu mereka!” tangan Bu Diah menunjuk Gunawan dan Lasmini dari arah belakang balai desa. Keduanya bergandengan tangan dan berwajah bahagia. Mereka kemudian duduk di lantai teras balai desa, berdempetan. Saling memandang dan tertawa hingga melahirkan suara kikik tiada henti.


“Mereka dari kamar mandi, Pak,” kata Bu Ratih dengan mimik cemas. Dia menarik napas berat sambil menggelengkan kepala tidak berdaya.
“Hubungi penghulu dan minta Jagabaya mempersiapkan ijab kabul untuk mereka. Hubungi juga orang tua Gunawan dan Lasmini untuk menyiapkan anak-anaknya besok pagi,” kata Pak Rustam kepada Bu Diah yang berwajah lesu.
“Pak Lurah, kali lain kalau rapat maksimal dua jam saja, ya,” pinta Bu Ratih penuh harap.
“Saya lupa. Mohon maaf, Bu, tadi kebablasan,” Kades Rustam menjawab dengan nada marah pada dirinya. Seketika kepalanya bergolak seperti gasing, hingga melompatlah ide: ruwatan, memutus tulak bala tulah asmara.

Suasana tenang kembali. Pohon beringin sendirian. Mungkin tahun ini terakhir kalinya menjadi saksi munculnya generasi istimewa buah asmara Gunawan dan Lasmini atau anak-anak mongoloid lainnya. Rapat desa siang itu menyetujui dana desa untuk membangun gedung SLB di tempat beringin itu berdiri.

Nganjuk, 5/2/2021

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *